Thursday, October 22, 2020

Fungsi Osiloskop, Bagian-bagian serta Cara Penggunaannya

Dalam dunia elektronika ada banyak sekali alat yang dimanfaatkan untuk mendukung fungsi elektronik. Ada juga alat yang digunakan untuk mengukur barang elektronik, seperti Osiloskop. Jika Anda bukan orang elektronik pasti akan bertanya-tanya untuk apa sebenarnya alat ini.


Selain untuk analisa elektronika, keberadaan Osiloskop sangat penting sekali untuk berbagai bidang keilmuan. Osiloskop biasanya juga dimanfaatkan untuk kesehatan, saintis, permesinan, dan masih banyak lagi.

Pengertian Osiloskop

Perlu Anda ketahui Osiloskop merupakan alat untuk produk elektronik yang mampu memetakan banyak bagian. Anda akan bisa melihat bagaimana sinyal listrik dan juga frekuensi berupa gambar grafik, sehingga akan lebih mudah untuk dipahami dan dipelajari.

Fungsi osiloskop untuk mengukur tegangan
Fungsi osiloskop untuk mengukur tegangan

Di bidang service elektronik, fungsi Osiloskop akan dimanfaatkan untuk melihat bagaimana kondisi suatu produk elektronik. Sehingga Osiloskop akan mampu menampilkan bagian mana saja yang mengalami kerusakan dan perlu diperbaiki.


Biasanya hasil proyeksi akan digambarkan dalam bentuk grafik dua dimensi atau 2D. Gambarnya seperti antara sumbu X sebagai waktu dan sumbu Y sebagai tegangan. Anda bisa menemukan penggunaan Osiloskop di pusat-pusat penelitian, sains, permesinan, kesehatan, dan juga komunikasi.


Sampai sekarang ada dua jenis Osiloskop yang paling banyak digunakan, yaitu Osiloskop Analog dengan teknologi CRT dan Osiloskop Digital dengan LCD sebagai penampil dari sinyal listrik yang terbaca.

Fungsi Setiap Bagian

Osiloskop memiliki tampilan yang cukup rumit bagi Anda yang tidak terbiasa menggunakannya. Tapi bagi yang sudah ahli maka sangat mudah. Oleh sebab itu, Anda juga perlu memahami fungsi dari setiap bagian Osiloskop ini. Berikut bagian dan fungsinya:


  1. Pertama ada Volt atau div. Bagian ini memiliki fungsi untuk mengeluarkan tegangan dalam bentuk AC.
  2. Lalu ada CH 1 atau input X yang memiliki fungsi untuk memasukkan sinyal atau gelombang yang ingin Anda ukur. Dengan bagian ini Anda bisa membaca bagaimana gelobang atau sinyal yang dipancatkan dari suatu produk elektroinik.
  3. AC-CD memiliki fungsi untuk memilih tingkat besaran yang ingin Anda ukur.
  4. Ground memiliki kegunaan yang sama dengan AC-CD, yaitu memilih besaran yang ingin digunakan.
  5. Posisi Y gunanya untuk mengatur posisi garis di dalam layar. Anda bisa mengatur garis apakah ada di atas atau di bawah.
  6. Variable fungsinya untuk melakukan kalibrasi pada alat Osiloskop. Karena tidak selamanya alat ini bisa menghasilkan analisis yang akurat. Oleh sebab itu, harus dilakukan kalibrasi secara berkala agar keakuratannya terjaga.
  7. Selector bermanfaat untuk memilih Channel. Biasanya Channel ini akan sangat dibutuhkan selama proses pengukuran suatu elektronik.
  8. Layar berfungsi untuk menampilkan hasil analisa dari Osiloskop yang tergambarkan ke dalam bentuk grafik.
  9. Inten berguna untuk mengatur seberapa cerah atau redup layar dari Osiloskop yang digunakan untuk menganalisa elektronik.
  10. Rotation memiliki fungsi agar Anda bisa mengatur letak garis yang ada pada layar Osiloskop.
  11. Fokus juga berguna untuk mengatur ketajaman garis yang ditampilkan pada layar. Jika ketajaman dinaikkan maka garis akan tampak sangat jelas.
  12. Position X untuk mengatur bagaimana posisi garis atau untuk tampilan yang ada pada kanan dan kiri dari layar Osiloskop.
  13. Sweep time div bermanfaat bagi Anda untuk mengubah waktu periode atau T dan frekuensi atau F.
  14. Mode merupakan tombol yang bisa Anda gunakan untuk memilih beberapa mode yang tersedia di dalam Osiloskop.
  15. Level memiliki kegunaan untuk bisa menghentikan gerakan yang ditampilkan pada layar Osiloskop.
  16. Exi Trigger untuk sebuah trigger di luar Osiloskop.
  17. Cal 0,5 vp-p berfungsi untuk melakukan kalibrasi. Tapi bagian ini berbeda dengan Variabel. Cal 0,5 vp-p digunakan untuk kalibrasi awal sebelum Osiloskop digunakan.
  18. Ground Osiloskop merupakan bagian yang sedang terhubung dengan ground dari elektronik yang sedang diukur.
  19. CH2 input Y untuk memasukkan sinyal atau hasil analisa gelombang yang sudah diukur atau membaca Vertikal.

Cara Penggunaan

  1. Pertama Anda harus menyalakan alat Osiloskop terlebih dahulu. Untuk beberapa jenis Osiloskop membutuhkan waktu boot yang lama. Bahkan waktu boot itu bisa dikatakan sama dengan boot pada PC. Oleh karena itu tunggu sampai Osiloskop benar-benar aktif. Ketika sudah menyala, Anda akan melihat tampilan di layar dengan garis-garis di dalamnya.
  2. Tahap selanjutnya adalah sambungkan probe positif + menuju ke terminal kalibrasi. Untuk beberapa probe ada pilihan faktor perkalian seperti x10 atau x1. Pada pilihan ini pilih saja x1.
  3. Lalu perhatikan tampilan layar akan ada sebuah sinyal persegi. Atur sampai layar CRO memiliki tampilan tegangan dalam 2vpp berfrekuensi 1 kHz.
  4. Selanjutnya gantilah pada tombol trigger sesuai dengan Channel yang Anda gunakan. Jika menggunakan CH 1 maka ganti trigger ke CH 1.
  5. Coupling pindah ke AC dan sesuaikan dengan pilihan pada probe.
  6. Untuk Volt div (vertikal), ganti selector ke 1 Volt, Time div (Horizontal) ke 0,5 Volt.
  7. Terakhir atur pencahayaan sesuai dengan selera dan alat Osiloskop siap Anda gunakan.
foto full osiloscope elektronik
foto full osiloscope elektronik

Osiloskop memang memiliki fungsi yang sangat penting untuk analisa di banyak bidang. Bahkan tidak hanya terbatas di bidang elektronik aja. Kesehatan biasanya juga menggunakan Osiloskop ini. Wah, banyak sekali ternyata fungsi dari osiloskop ini!

Labels:

Wednesday, October 14, 2020

Perbedaan Transistor PNP dan NPN serta Aplikasi Penggunaannya

Transistor adalah komponen yang sangat penting di dalam sebuah rangkaian elektronika. Transistor dibagi menjadi dua, yaitu PNP dan NPN dan keduanya memiliki banyak perbedaan dan cara kerja masing-masing. Sebagian besar rangkaian elektro biasanya akan menggunakan salah satu jenis transistor tersebut.

foto transistor berbagai jenis
foto transistor berbagai jenis

Oleh karena itu, Anda harus bisa memahami dengan baik apa saja sebenarnya perbedaan antara kedua transistor tersebut. Sehingga bisa memilih yang tepat untuk rangkaian elektronik yang sedang Anda buat.

Perbedaan antara PNP dan NPN

1. Perbedaan Cara Kerja Basis

Perbedaan pertama yang cukup jelas antara PNP dan NPN adalah pada masalah basis. Untuk transistor PNP, maka basis yang diberi muatan yang negatif-emitor akan memberikan muatan arus menuju ke kolektor. Sementara itu pada transistor NPN, maka ketika basis itu bermuatan positif + maka kolektor akan memberikan muatan arus ke emitor.

2. Tegangan Positif

Perbedaan selanjutnya adalah pada transistor yang PNP, maka pada tegangan positif akan terus tersambungkan dengan kaki pada emitor, kemudian untuk tegangan negatif akan terus tersambung dengan kaki kolektor.


Nah, sementara pada transistor NPN, tegangan yang positif akan terus disambung dengan kaki kolektor. Lalu untuk tegangan yang negatif akan terhubung pada kaki emitor. Jika hal ini tidak berjalan dengan semestinya, maka transistor tidak bisa berfungsi sama sekali.

3. Arus Output

Antara PNP dan NPN juga memiliki perbedaan pada masalah arus output. Ketika sedang dalam kondisi aktif, maka transistor PNP mengeluarkan arus yang positif ke kaki dari kolektor. Untuk transistor NPN ketika aktif, maka akan menyalurkan arus negatif menuju ke kaki dari kolektor.

4. Switching

Beberapa orang yang berkecimpung di dunia elektronika, sering memberikan rekomendasi jika ingin menggunakan untuk switching maka usahakan menggunakan NPN dibandingkan NPN.

5. Input Basis

Input basis pada transistor PNP dan NPN memiliki perbedaan yang signifikan. Pada jenis PNP akan mulai aktif disaat kaki dari basisnya mulai dihubungkan dengan arus yang negatif. Sementara itu, pada transistor NPN akan aktif ketika Anda hubungkan kaki basis ke arus yang positif.

perbedaan transistor NPN dan PNP
Perbedaan transistor NPN dan PNP / Leets Academy

6. Simbol

Nah, jika Anda perhatikan pada simbol kedua transistor, maka akan terlihat perbedaanya. Tentunya perbedaan pada simbol ini juga akan memudahkan bagi Anda ketika membaca jenis dari sebuah transistor. Pada transistor NPN maka arah panah akan menuju keluar di huruf “E”, kemudian pada PNP, arah panah justru menuju ke dalam dari huruf “E”.

7. Bahan

Perbedaan yang tentunya memberikan pengaruh besar antara transistor PNP dan NPN adalah pada masalah bahan semikonduktor yang dipakai.


Jika Anda perhatikan pada transistor NPN mempunyai dua blok bahan semikonduktor dengan tipe N dan satu blok lainnya memiliki tipe P. Selanjutnya bahan pada PNP, untuk salah satu blok material memiliki tipe P dan satu lainnya memiliki tipe N. Seperti dibolak-balik tapi memiliki perbedaan fungsi yang sangat signifikan.

Penggunaan Transistor PNP dan NPN

1. Untuk Saklar

Sementara itu, dalam penggunaan yang lebih umum, Anda bisa menemukan transistor PNP dan NPN pada microcontroller seperti Arduino. Transistor ini akan dimanfaatkan sebagai switch on/off atau saklar.

ilustrasii saklar lampu
ilustrasi saklar lampu tegangan AC

Contoh perangkatnya adalah untuk bisa mengatur Relay AC lewat Arduino. Karena sebenarnya tegangan output Arduino tidak bisa mengatur Relay AC. Terlebih lagi jika disambungkan langsung, maka bisa menyebabkan Arduino menjadi rusak. Oleh sebab itu, Anda perlu menggunakan transistor sebagai switch atau saklar on dan off.

2. Untuk Driver Motor DC

Selain pada microcontroller, Anda juga bisa melihat penggunaan transistor PNP dan NPN pada driver atau alat pengendali motor DC. Sehingga motor DC tersebut akan mati atau hidup jika transistor mengalami pergeseran sesuai yang dikehendaki.


Selain itu, transistor pada motor DC juga akan berguna sebagai pengatur arah putaran pada motor DC. Anda bisa menentukan ke mana arah motor berputar apakah searah jaruh jam atau berlawanan.

3. Penguat Arus

Power supply regulator biasanya juga akan menggunakan komponen transistor PNP atau NPN. Fungsi keberadaan transistor ini adalah untuk memperkuat arus sesuai dengan kapasitas dari power supply tersebut. Biasanya digunakan pada power supply untuk microcontroller Arduino dan lain-lain.

4. Lampu Flip Flop

Rangkaian flip flop agar bisa bekerja baik dengan lampu berkedip bergantian, maka Anda harus menggunakan transistor di dalamnya. Keberadaan transistor PNP atau NPN pada rangkaian flip flop sangat penting sekali.


Kemudian untuk menentukan kecepatan kedipan dari lampu flip flop, maka akan ditentukan oleh komponen lain seperti besaran tahanan resistor dan kapasitor. Jika kapasitor semakin besar, maka jarak waktu kedip bisa lebih lama. Ketika nilai resistor semakin besar, maka juga bisa membuat pembuatan muatan dari kapasitor menjadi lambat dan jarak kedipan lebih lama.


Transistor membuat rangkaian-rangkaian pada elektronika menjadi lebih bervariasi dan bermanfaat. Tanpa adanya resistor mungkin beberapa rangkaian tidak akan berfungsi dengan baik. Dari penjelasan di atas, bukankah Anda sudah bisa mengenal PNP dan NPN lebih baik lagi?

Labels:

Wednesday, September 23, 2020

Ciri Trafo Step: Cara Kerja dan Contoh Penggunannya

Trafo atau transformator memiliki fungsi yang sangat vital untuk peralatan-peralatan yang membutuhkan arus listrik. Secara umum, sebenarnya trafo itu dibagi menjadi dua, yaitu trafo step up dan juga trafo step down. Tentunya masih-masing jenis ini memiliki fungsi yang berbeda.


Namun, trafo yang lebih sering Anda temukan adalah trafo yang berjenis step down. Biasanya akan membuat tegangan listrik menjadi lebih rendah sekitar 110, sehingga perangkat elektronik bertegangan 110 bisa digunakan. Tapi ada juga trafo step up yang cukup unik sekali.

Cara Kerja Trafo Step Up

Sesuai dengan namanya sebenarnya trafo yang satu ini memiliki fungsi untuk bisa mendorong tegangan listrik menjadi lebih tinggi dari primer ke sekunder. Namun, walaupun tegangan itu dinaikkan, Anda akan tetap mendapatkan daya listrik dan frekuensi yang sama saja.


Meski trafo step up ini memang sudah umum digunakan, tapi kebanyakan alat-alat elektronik menggunakan trafo step down. Hanya untuk alat-alat tertentu saja yang menggunakan trafo step up. Contohnya, untuk menghidupkan alat elektronik yang besar dan membutuhkan watt yang ekstra.

trafo step up sekunder
trafo step up sekunder

Anda mungkin penasaran sebenarnya bagaimana cara dan prinsip kerja dari trafo ini. Karena cukup aneh jika tegangan tiba-tiba bisa dinaikkan. Karena umumnya tegangan listrik tersebut diturunkan sebab terlalu besar.


Prinsip kerjanya adalah menggunakan induksi elektromagnet yang berdasarkan dengan hukum Lorentz dan juga Faraday. Lebih rinci lagi cara kerja trafo step up ini didasarkan induksi elektromagnet yang biasanya akan terjadi disaat lilitan bagian primer dialiri tegangan AC (bolak-balik).


Sehingga dengan bagian primer yang dialiri listrik itu, akan memicu flux magnet di tengah trafo dan menyebabkan induksi daya gerak listrik atau GGL ke lilitan bagian sekunder. Tegangan akhir yang keluar dari lilitan sekunder akan sangat bergantung dengan jumlah lilitan primer sekunder dan juga besaran tegangan dan arus dari primer.

Rumus Tegangan Trafo

Ada rumus untuk bisa menghitung seberapa besar tegangan trafo, yakni:


  • Vp/Vs = Is/Ip = Np/Ns
  • Vp= merupakan besaran tegangan dari primer dalam bentuk Volt.
  • Vs= adalah tegangan pada sekunder berbentuk Volt
  • Np= banyaknya lilitan primer
  • Ns= total banyaknya lilitan sekunder
  • Ip= kekuatan arus dari primer atau input dalam bentuk Ampere
  • Is= kekuatan arus pada bagian sekunder atau output berbentuk Ampere

Dari rumusan cara menghitung tegangan trafo di atas, bisa dikatakan penjelasan sederhana trafo step up yaitu dengan memperbesar jarak antar lilitan di bagian primer. Kemudian jarak atau rasio pada lilitan sekunder dirapatkan, sehingga menghasilkan lilitan yang lebih banyak.


Cara kerja ini merupakan kebalikan dari trafo step down. Pada trafo step down, tingkat kerapatan lilitan bagian primer sangat tinggi, sehingga akan menghasilkan lilitan yang jauh lebih banyak. Lalu pada bagian sekunder memiliki lilitan yang berjarak lebar dan jumlahnya lebih sedikit.

Fungsi dan Kegunaan Trafo Step Up

1. Untuk Transmisi Listrik

Di dalam dunia kelistrikan, trafo step up memiliki fungsi yang sangat penting sekali. Terutama untuk bisa mentransmisikan atau menyebarkan listrik dari PLN ke lokasi dengan jarak yang sangat jauh. Jika berdasarkan teorinya, untuk bisa mengalirkan listrik dengan daya yang sangat besar, maka dibutuhkan kabel tembaga yang berukuran besar dan berkualitas tinggi.


Efeknya adalah akan menyebabkan biaya pengeluaran kabel membengkak sangat tinggi, untuk bisa mengalirkan listrik dari PLN yang bisa mencapai jutaan watt. Oleh sebab itu, listrik yang ditransmisikan PLN berjenis AC atau arus bolak-balik.


Trafo akan memiliki fungsi yang sangat vital karena membuat transmisi menjadi lebih efisien. Karena semakin kecil arus yang mengalir, kabel penghantar juga semakin kecil meski tegangan harus dinaikkan. Dengan menggunakan trafo maka arus yang dialirkan bisa lebih kecil ,namun daya yang dihasilkan juga masih sangat besar, kemudian tegangan juga menjadi lebih tinggi.

2. Untuk Microwave

Kemudian fungsi dan kegunaan trafo step up yang lainnya juga bisa Anda temukan pada alat elektronik rumahan, seperti Microwave. Pada salah satu bagian Microwave ada alat yang memiliki nama Magnetron.

microwave contoh aplikasi trafo step up
Microwave contoh aplikasi trafo step up

Fungsinya mengubah listrik ke gelombang mikro berfrekuensi tinggi. Nah, agar Magentron itu bisa berfungsi, maka Anda membutuhkan listrik dengan tegangan yang tinggi dan arus yang besar. Di sinilah trafo step up akan berfungsi dan membuat Microwave menjadi bekerja.


Tanpa adanya trafo step up, Magentron di dalam Microwave tidak akan bekerja karena kekurangan tegangan.

3. Untuk Power Supply atau UPS

UPS adalah Uninterruptible Power Supply yang berfungsi mencegah perangkat elektronik rusak akibat tegangan yang naik turun. Anda bisa menemukan alat ini biasanya untuk PC.

harga trafo ups di tokopedia
harga trafo ups di tokopedia

Trafo yang ada di dalam UPS bisanya memiliki fungsi ganda, yaitu untuk step up dan juga step down. Sehingga PC bisa terhindar dari kerusakan, seperti ketika mati lampu mendadak karena ada UPS yang sudah membackupnya.


Trafo step up memiliki banyak sekali fungsi untuk kehidupan, terutama dalam urusan alat elektronik. Sekarang Anda bisa mencoba memanfaatkan trafo step up untuk beberapa alat yang butuh tegangan tinggi, karena sudah paham cara kerja dan kegunaan trafo step up.

Labels:

Ini Kelebihan dan Jenis-Jenis Arduino yang Populer di Pasaran

Bagi Anda yang sudah terjun ke dalam dunia elektronika, mungkin sudah tidak asing lagi dengan Arduino. Ini adalah sebuah alternatif baru di dalam bidang microcontroller. Bahkan sampai saat ini sudah ada banyak sekali project dalam bentuk elektronik dan robot yang menggunakan Arduino.

komponen dari Arduino TM
komponen dari Arduino TM


Karena memang Arduino dikenal sebagai salah satu alat yang lebih mudah dan memiliki banyak kelebihan dibandingkan yang lainnya. Oleh sebab itu, banyak orang yang memilih menggunakan Arduino.

Sejarah Arduino

Sebenarnya microcontroller Arduino ini lahir bukan dari sesuatu yang sangat mengejutkan. Karena Arduino pada awalnya hanya sebuah karya ilmiah Tesis dari salah satu mahasiswa asal Kolombia. Dia studi perguruan tinggi di Universitas Ivrea Italia.


Kemudian awal mula Arduino ini mulai tumbuh karena adanya proses pengembangan yang lebih lanjut. Padahal tujuan dari pengembangan ini hanyalah untuk membuat sebuah microcontroller yang lebih terjangkau, fleksibel, dan mudah dipahami oleh semua kalangan.


Tapi kemudian, karena menjadi alat microcontroller yang jauh lebih mudah dibandingkan lainnya, Arduino menjadi pilihan yang paling utama.

Kelebihan Arduino

1. Biaya Terjangkau

Kelebihan yang bisa Anda temukan pertama kali jika memakai Arduino dalam microcontroller adalah biaya yang sangat terjangkau sekali. Untuk satu Board hanya memiliki harga berkisar dari Rp100.000,-  sampai dengan Rp400.000,- saja.


Apalagi saat ini juga ada banyak sekali Arduino versi imitasi atau kloningan yang memiliki harga sangat jauh lebih terjangkau lagi. Namun, tentunya ada beberapa kelemahan dari versi imitasi jika dibandingkan dengan versi original dari pabrikan asal Italia.

2. Mudah dan Sederhana

Selain itu, Anda juga bisa mempelajari Arduino ini dengan mudah sekali. Karena memang tujuan awal pengembangan alat ini adalah untuk bisa menciptakan microcontroller yang mudah untuk dipahami.


Tidak heran jika pada akhirnya banyak orang yang lebih memilih mengunakan Arduino dibandingan micro controller lainnya. Kemudahan dalam mempelajari dan kesederhanaannya sangat cocok digunakan oleh para pemula di dunia elektronika.


Bahasa pemrograman di dalam Arduino ini termasuk fleksibel sekali karena bisa dikatakan hampir mirip dengan bahasa manusia. Tidak serumit bahasa pemrograman yang benar-benar sulit dipahami.

3. Software yang Open Source

Anda juga bisa menemui kelebihan lain, seperti software Arduino yang bersifat open source. Dengan adanya software IDE yang open source ini maka Anda memiliki kemungkinan untuk melakukan pemrograman yang lebih lanjut lagi.


Tak hanya itu saja, bahasa Arduino juga bisa Anda kembangkan lewat pustaka C++ dengan menggunakan bahasa C bagi AVR.

4. Hardware yang Open Source

Selain software yang open source, ternyata hardware Arduino ini juga open source. Ada beberapa hardware atau perangkat keras dari Arduino ini, yaitu ATMega8, ATMega168, ATMega328, lalu ATMega128, dan ada Atmega2650.


Sehingga akan membuat Anda lebih mudah melakukan pengembangan dan bisa juga menjual board tersebut. Untuk Bootloadernya sudah tersedia pada software IDE.

sirkuit arrduino made in italy
sirkuit Arduino UNO made in italy

Jenis-Jenis Arduino

1. Uno

Jenis prtama yang paling umum adalah Arduino Uno. Salah satu penyebab jenis ini sangat terkenal adalah karena sangat mudah sekali untuk digunakan dan dipahami. Banyak juga yang menggunakan Arduino Uno ini pada tingkatan pemula sebab memang lebih sederhana.

Versi terakhir yaitu Uno R3 atau Arduino Uno Revisi 3. Versi ini memanfaatkan microcontroller ATMega328, kemudian mempunyai sekitar 14 pin I/O digital dan juga sebanyak 6 pin input analog. Selanjutnya pada pemrograman dengan menggunakan USB A sampai USB B.

2. Due

Jenis selanjutnya ini berbeda cukup jauh dengan jenis Uno. Untuk Arduino Due memanfaatkan microcontroller dengan tingkatan chip yang jauh lebih tinggi lagi, yaitu ARM Cortex CPU. Selain itu, Due mempunyai 54 I/O pin digital dan juga sekitar 12 pin input analog.


Anda bisa melakukan pemrograman Arduino Due ini dengan menggunakan USB Micro yang seperti umumnya terdapat pada smartphone.

3. Mega 2560

Sesuai dengan namanya, jenis Arduino Mega 2560 ini memanfaatkan chip ATMega 2560 dengan pin I/O digital yang termasuk banyak sekitar 54 dengan 15 merupakan PWM. Lalu sebanyak 16 pin analog input dan sebanyak 4 pin UART yang merupakan serial port hardware.

Arduino Mega dijual di Tokopedia
Arduino Mega dijual di Tokopedia

Kelebihan jenis ini sudah mendukung oscillator 16 Mhz dengan port USB, jack DC, tombol reset, dan juga ICSP Header. Jenis ini lebih bermanfaat untuk membuat rancangan sistem yang besar.

4. Leonardo

Jenis yang satu ini menggunakan microcontroller ATMega 32u4 dengan 20 digital pin I/O. Sebanyak 7 pin tersebut digunakan untuk output PWM dan sisanya untuk input analog. Jenis Arduino Leonardo didukung dengan komponen yang lengkap. Anda akan menemukan 16 Mhz kristal oscillator, USB Micro, jack tegangan besar, ICSP Header, dan juga tentunya tombol reset.


Arduino memang menjadi pilihan microcontroller yang sangat mudah dan sederhana. Bisa Anda gunakan untuk semua kalangan dari yang pemula sampai profesional. Tentunya masih ada banyak sekali jenis Arduino yang lainnya, seperti Nano, Micro, Ethernet, dan Mini.

Labels:

Tuesday, September 22, 2020

Daftar Harga Box Panel Listrik Beragam Tipe dan Ukuran

Saat melihat beberapa box yang biasanya terletak di rumah atau tiang listrik dalam keadaan terbuka, tentu Anda akan tahu bahwa isinya berupa serangkaian jaringan penghubung arus listrik. Jaringan tersebut terbuat dari serangkaian kabel yang cukup berbahaya jika disentuh oleh sembarang orang. Aliran listrik dari berbagai sambungan kabel tersebut tetap aman jika berada di dalam box panel.

box panel kontrol listrik
box panel kontrol listrik

Deskripsi dan penjelasan di atas memberikan Anda gambaran bahwa secara umum box panel listrik merupakan wadah berbentuk kotak balok atau kubus yang di dalamnya terdapat sambungan kabel. Box tersebut sangat penting untuk melindungi kebocoran arus listrik yang berbahaya bagi manusia. Bagi Anda yang membutuhkan box ini, sebaiknya menyimak daftar harga sekaligus fungsinya berikut!

Fungsi Penting Box Panel Listrik dan Isinya

Fungsi utama box panel listrik sebagai pelindung kabel dan perantara untuk menghubungkan seluruh jaringan kabel listrik warga secara luas dari satu sumber arus. Box yang terbuat dari bahan plat besi umumnya memiliki ketebalan dari ukuran 0.5 milimeter hingga 1 milimeter. Bentuk box ini bisa bervariasi, namun kebanyakan adalah kubus.


Box panel listrik memiliki daun pintu untuk memudahkan Anda membuka atau menutup pelindung sambungan kabel di dalamnya. Daun pintu tersebut juga berfungsi sebagai sarana bagi Anda agar lebih mudah saat mengatur tegangan arus listrik atau beberapa sistem listrik yang sedang korslet dari sumbernya. Box juga dapat digunakan sebagai pelindung sambungan kabel dari koneksi wiFi.


Para ahli elektro menyebutkan bahwa fungsi box panel sangat penting karena sebagai wadah komponen listrik untuk mendukung operasi mesin listrik agar bekerja sesuai prinsipnya. Hal tersebut membuat mereka dapat mengoperasikannya mesin listrik lebih mudah di berbagai saat, terutama ketika terjadi korsleting, jaringan listrik yang terputus, dan sebagainya.

Aneka Jenis Box Panel Listrik Berdasarkan Bahan

Daftar harga box panel listrik sangat beragam karena didasarkan pada ukuran, jenis bahan, tipe, fungsi kontrol, dan penggunaannya. Anda dapat mengetahui beberapa kategori berdasarkan bahannya, seperti berikut:

· Box Panel Listrik dari Plastik

Anda harus berhati-hati ketika memilih box panel dari berbahan plastik karena jika salah menentukannya dapat berakibat fatal, bahkan bahan tersebut bisa meleleh. Box panel yang aman dari plastik terbuat dari jenis HDPE yang memiliki sifat kuat, tahan lama, keras, serta memiliki kekuatan menahan suhu tinggi dari arus listrik.

· Box Panel Listrik Berbahan Besi

Box panel besi merupakan alat yang paling banyak digunakan karena keamanannya telah terjamin. Besi yang dipilih berasal dari material logam berupa baja tuang atau plat. Proses pembuatan plat untuk box panel dilakukan dengan cara dipress, sehingga membentuk kepingan pipih yang luas. Kepingan plat besi tersebut dirangkai menjadi satu hingga menjadi balok atau kubus box.

Kategori Box Panel Listrik Berdasarkan Tipenya

Anda juga harus memilih box panel sesuai tipenya karena hal tersebut sangat berpengaruh pada tingginya kualitas box, ukuran, dan kegunaannya nanti. Berikut adalah beberapa tipe box panel listrik yang terbagi menjadi 3 bagian:

1. Tipe Wall Mounting Box

Wall Mounting box memiliki ciri khas berupa balok yang dapat ditempelkan di dinding dan memiliki lebih banyak kegunaan daripada tipe lainnya. Sifatnya yang multifungsi tersebut membuat wall mounting box menjadi pilihan utama oleh banyak orang.

wall mounting box
wall mounting box

Box panel tipe ini merupakan box berukuran kecil yakni sekitar 700x500x200 milimeter, 700x800x200 milimeter, dan 800x600x200 milimeter. Ukuran tersebut tergolong sebagai jumlah yang paling rendah jika dibandingkan tipe box panel lainnya.

2. Free Standing Box Panel

Free Standing box mempunyai kelebihan yakni dapat berdiri secara bebas, sehingga Anda dapat memanfaatkannya di berbagai bentuk ruangan dan tempat. Ukurannya jauh lebih tinggi dibandingkan wall mounting. Ukurannya secara umum sebesar 2200x1600x600 milimeter, namun ada beberapa variasi ukuran lain yang tidak terlalu populer peminatnya.

3. Switch Gear

Box panel listrik umumnya memiliki fungsi sebagai sumber pemberi utama arus listrik atau penyuplai jaringan beban akhir. Namun, panel box Switch Gear ini justru menjadi penyalur atau distributor energi dari sumber listrik pusat ke panel-panel lain dengan kapasitas tegangan listrik yang lebih kecil. Fungsinya menjadi pemutus sekaligus pembagi beban listrik ke berbagai panel secara menyebar.


Switch Gear dapat mendistribusikan listrik dengan kapasitas sebesar 3,3 KV, 24 KV, 6.6 KV, dan 20 KV melalui alat berupa trafo tegangan. Switch Gear fungsinya sangat penting bagi Anda yang berencana memiliki proyek berupa pembagian arus listrik ke beberapa tempat terpencil untuk sementara.

Daftar Harga Box Panel Listrik Aneka Ukuran

Jenis Box Panel ListrikUkuran Box Panel ListrikHarga Box Panel Listrik
Box Panel Indoor25x35x12Rp201.115,-
Box Panel Indoor30x40x15Rp244.815,-
Box Panel Indoor40x50x20Rp392.160,-
Box Panel Outdoor Topi Satu Sisi20x30x12Rp282.000,-
Box Panel Outdoor Topi Satu Sisi25x35x12Rp301.200,-
Box Panel Outdoor Topi Satu Sisi30x40x15Rp364.000,-
Box Panel Steel IP 55 TIBOX20x25x15Rp325.000,-
Box Panel Steel IP 55 TIBOX30x25x15Rp390.000,-
Box Panel Steel IP 55 TIBOX40x30x20Rp540.000,-

Box panel listrik kini bisa didapatkan dengan harga yang lebih terjangkau seperti pada tabel di atas. Anda bisa merencanakan proyek pembangunan jaringan listrik baru setelah mengetahui fungsi, jenis, sekaligus harganya. Namun, Anda tetap harus mempertimbangkan kriteria penting untuk mendapatkan box panel dengan kualitas terbaik, awet, dan terjamin keamanannya.

Labels:

Sunday, September 13, 2020

Mengenal Hukum Kirchoff 1 dan 2 serta Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagi anak IPA mungkin semasa SMA sudah cukup akrab dengan hukum Kirchoff. Memang, hukum Kirchoff ini erat hubungannya dengan ilmu elektronika. Hukum Kirchoff sendiri berfungsi untuk melakukan penghitungan pada sebuah tegangan dan arus listrik yang ada di sebuah rangkaian.

ilustrasi sirkuit lstrik hk kirchoff 1 dan 2
ilustrasi sirkuit lstrik hk kirchoff 1 dan 2

Di dalam teorinya, Hukum Kirchoff dibagi menjadi dua. Sementara kalau dalam sudut pandang sejarah, hukum Kirchoff sendiri pertama kali muncul tahun 1824 dan diperkenalkan antara tahun 1824 sampai 1887. Orang yang pertama kali memperkenalkannya adalah Gustav Robert Kirchhoff.

Mengerti Hukum Kirchoff Secara Umum

Sebelum membahas satu persatu tentang hukum Kirchoff 1 dan 2, sebaiknya Anda memahami terlebih dahulu hukum Kirchoff secara keseluruhan. Jadi, setelah dikenalkan pada tahun 1824, hukum Kirchoff masih dipakai sampai sekarang.


Hukum ini juga disebut dengan dua persamaan yang saling bertautan dengan beda potensial dan beda arus. Atau juga lebih dikenal dengan sebuah tegangan yang ada di dalam sebuah rangkaian listrik, entah itu besar atau kecil.


Kalau dalam penerapannya sendiri, ada banyak alat yang menggunakan hukum Kirchoff ini. Tapi sebelum kita membahas di manakah hukum ini digunakan, ada baiknya kita memahami masing-masing dari hukum Kirchoff ini.

Memahami Hukum Kirchoff 1

Seperti yang sudah disebutkan di atas, hukum Kirchoff ini dibagi menjadi dua. Hukum Kirchoff yang pertama adalah Hukum Kirchoff 1. Pengertian dari hukum ini sendiri merupakan sebuah teori yang bertautan dengan arah arus listrik ketika menghadapi titik percabangan.

Hukum satu Kirchoff
Hukum satu Kirchoff

Teori dasar dari hukum ini sering juga disebut dengan kirchoff current law (KCL) atau juga hukum arus kirchoff. Bunyi hukum Kirchoff seperti ini:

“Arus Total yang masuk melalui suatu titik percabangan dalam suatu rangkaian listrik sama dengan arus total yang keluar dari titik tersebut.”

Penjelasannya sendiri tentang bunyi dari hukum Kirchoff 1 adalah jumlah dari total arus listrik yang berhasil masuk ke percabangan rangkaian listrik, memiliki ukuran yang sama dengan jumlah total arus yang nantinya akan keluar.


Hukum Kirchoff 1 ini adalah sebuah teori sederhana yang bisa membuat Anda menghitung jumlah kuat arus yang ada di dalam sebuah rangkaian listrik. Entah itu di dalam sebuah rangkaian paralel atau pun di dalam sebuah rangkaian seri.

Memahami Hukum Kirchoff 2

Sementara pada hukum Kirchoff 2 berbeda lagi. Di dalam hukum Kirchoff 2 ini lebih menekankan pada loop rule atau kaidah loop yang semuanya didasarkan pada teori kekekalan energi. Hukum Kirchoff 2 ini sering dipakai untuk menghitung tekanan beda potensial.

Hukum kedua Kirchoff loop
Hukum kedua Kirchoff loop

Sebutan lain dari Hukum Kirchoff 2 adalah hukum tegangan Kirchoff atau juga bisa disebut sebagai Kirchoff Voltage Law atau KVL. Tekanan beda potensial yang dihitung biasanya ada pada komponen di dalam sebuah rangkaian tertutup.

Sementara bunyi dari hukum Kirchoff 2 adalah:

“Total Tegangan (beda potensial) pada suatu rangkaian tertutup adalah nol.”

Bunyi Hukum Kirchoff 2 ini memiliki penjelasan bahwa jumlah aljabar gaya gerak listrik di dalam sebuah rangkaian yang tertutup itu sama dengan nol. Begitu juga dengan yang terjadi pada penurunan tegangan listrik di dalam rangkaian tersebut.


Maksudnya, ketika hukum penurunan tegangan itu sama dengan nol, maka tidak ada energi listrik yang hilang di dalam rangkaian itu. Artinya, semua energi listrik berhasil diserap dan juga berhasil dipakai secara maksimal di dalam rangkaian itu.

Penerapannya Dalam Kehidupan Sehari-hari

Melihat secara kasat mata penerapan hukum Kirchoff ini cukup sulit. Pasalnya, ia tidak berbentuk komponen, tapi merupakan sebuah rumus untuk menjalankan rangkaian listrik. Salah satu komponen listrik yang terasa menggunakan hukum Kirchoff adalah rangkaian paralel dan juga rangkaian seri.


Kalau lampu disusun dengan menggunakan rangkaian seri maka lampu yang paling dekat dengan sumber listrik akan menyala lebih terang. Sementara lampu yang jauh dari sumber listrik akan menyala redup.


Kalau disusun dengan rangkaian paralel, maka semua lampu akan punya intensitas keterangan yang kurang lebih sama, meskipun jarak dengan sumber listrik berbeda-beda. Salah satu contoh yang paling nyata adalah ketika di dalam rumah.


Coba perhatikan nyala lampu rumah Anda. Ketika semua lampu mati dan hanya satu lampu yang menyala, maka tegangan dan juga arus di dalam rangkaian tersebut terfokus pada satu lampu saja. Hal itu membuktikan hukum Kirchoff 1 dan 2 berjalan.


Hukum Kirchoff 1 dan dua sedang melakukan perhitungan nilai tegangan dan arus yang optimal, sehingga lampu di rumah Anda bisa menyala dengan terang dan juga maksimal. Hal yang sama juga terjadi pada setiap rangkaian listrik entah itu dalam bentuk lampu atau perangkat listrik yang lainnya.


Sekali lagi, melihat penggunaan hukum Kirchoff 1 dan 2 tidak bisa secara langsung. Anda harus memahami hitungannya terlebih dahulu. Di mana hitungannya ini bisa jadi sangat rumit atau mungkin tidak begitu rumit jika Anda sudah memahaminya.

Labels:

Mengenal Cara Kerja SSR Solid State Relay dan Contoh Aplikasinya

Apakah Anda pernah mendengar istilah SSR? SSR memang bukan istilah umum yang disebutkan banyak orang. SSR ini kurang lebih adalah sebuah komponen yang berhubungan dengan rangkaian listrik. Tapi apa itu SSR, apa fungsinya, dan pembahasan lain akan kita jawab di artikel ini!

Apa itu SSR?

Untuk memahami SSR, pertama Anda harus mengerti kalau SSR itu adalah singkatan dari Solid State Relay. Memang ada Solid Statenya yang membuat Anda mungkin berpikir ia mirip dengan SSD. Tapi kenyataanya kedua benda itu sangat berbeda.

Contoh rangkaian menggunakan SSR
Contoh rangkaian menggunakan SSR

SSR merupakan sebuah saklar elektronik dengan semi konduktor yang mampu mengontrol arus listrik yang lebih besar dengan hanya memakai arus listrik kecil. Kalau melihat dari pengertian itu, maka SSR ini sama seperti komponen relay yang lain.


Bedanya adalah relay yang biasa itu memiliki coil yang bertugas membuat medan magnet sampai tuas di relay mampu berubah posisi. Sementara di SSR, tidak ada komponen mekanis atau dengan kata lain tidak ada satu pun komponen yang bergerak.


Selain itu, Anda juga perlu tahu bahwa relay-relay yang konvensional atau juga disebut EMR itu membutuhkan medan magnet, per atau pegas, dan juga kontak mekanik ketika beroperasi, sementara SSR tidak. Part mekanik digantikan oleh semikonduktor secara elektronik.


Selain itu, Solid State Relay ini memakai optik untuk kemudian mampu mengisolasi output dan juga inputnya. Pada intinya, SSR ini adalah sebuah saklar untuk mengendalikan aliran listrik tanpa adanya pergerakan mekanis.

Fungsi SSR

Setelah kita bicara soal pengertian SSR dan semoga Anda mampu memahaminya, sekarang kita akan bicara soal fungsi dari SSR itu sendiri. Di pembahasan sebelumnya mungkin sudah ada sedikit gambaran tentang fungsi dari SSR ini.

SSR satu fasa
SSR satu fasa

Jadi, fungsi SSR ini sama seperti relay yang lain, yakni mengendalikan aliran arus yang berdaya besar dengan menggunakan arus yang kecil. Itu jika kita bicara soal fungsi umumnya. Tapi Anda perlu tahu kalau SSR ini berbeda dengan relay pada umumnya. Karena itu ia memiliki fungsi lain juga, seperti:


  • Proyek Robotik. Karena kelebihannya, SSR sering juga dipakai untuk proyek robotik.
  • Mesin dan Alat Industri. Relay biasa jarang digunakan di mesin dan alat industri. Sementara SSR, sering dipakai untuk alat industri dan mesin karena efisien.
  • Alat Medis. Sekali lagi, karena efisiensi yang dimilikinya, SSR juga sering digunakan untuk beberapa peralatan medis.
  • Alat Ukur Meter. Di alat ukur meter ini termasuk alat ukur meter gas.
  • Alat Elektronik Rumahan. Ada banyak juga alat elektronik di rumah yang menggunakan SSR dalam rangkaian listrik mereka.
  • Circuit Multiplexers. Pada rangkaian circuit multiplexers SSR juga sering dipakai.
  • Alat Instrumentasi. Beberapa alat instrumentasi yang Anda ketahui menggunakan SSR sebagai saklar mereka.

Cara SSR Bekerja

Memahami fungsinya, kapan serta di mana SSR sering digunakan saja tidak cukup. Anda juga harus tahu bagaimana SSR ini bisa bekerja. Bagaimana ia mampu mengendalikan arus listrik yang besar menggunakan arus kecil?


Caranya adalah dengan memakai optocoupler, yang merupakan sebuah sirkuit sederhana dan  dikendalikan oleh cahaya. Biasanya cahaya yang dipakai SSR ini berbentuk LED atau juga infrared.

Gambar Solid State Relay
Gambar Solid State Relay

Jadi, saat tegangan input diberikan tegangan sampai 24 volt, maka optocoupler akan menyala. Ia kemudian akan memberikan sinyal kepada rangkaian yang ada di dalam SSR, kemudian mengganti kontak elektronik dari NC ke NO dan sebaliknya.


Ketika kontak elektronik yang terjadi ada di posisi ON, yang terkadang bentuknya adalah komponen SCR atau juga TRIAC, maka akan muncul arus yang sepenuhnya mengalir ke kontak output. Cara kerja SSR sebenarnya jauh lebih rumit. Tapi untuk tahap pertama, yang terpenting Anda tahu sedikit.

Kelebihan SSR

Selain lebih efisien, SSR memiliki beberapa kelebihan yang lain. Apa saja kelebihannya? Anda bisa melihatnya pada informasi berikut ini:


  1. SSR tidak bisa muncul karat. Hal itu bisa terjadi karena SSR tidak memiliki komponen mekanik di mana tidak ada bagian yang bergerak dan mampu membuatnya tidak bisa berkarat.
  2. Tidak ada bunga api. Saat terjadi perpindahan kontak SSR tidak memunculkan bunga api, yang kebanyakan muncul karena komponen mekanik.
  3. Switch On-Off Cepat. Perpindahan yang terjadi secara elektronik membuat SSR memiliki kemampuan switching on ke off yang sangat cepat, bahkan lebih cepat dari relay biasa.
  4. Anti Goncangan. SSR memiliki susunan body yang lebih kuat terhadap goncangan. Hal itu membuat SSR jauh lebih awet dari relay yang lain.
  5. Tidak Ada Suara. Sekali lagi, perpindahan elektronik yang dimiliki SSR memungkinkannya untuk tidak terdengar. Tidak seperti relay lain yang pasti akan terdengar suara klik.
  6. Lebih Sensitif. Input yang dimiliki SSR jauh lebih sensitif. Bahkan kalau Anda menggunakannya di CMOS atau TTL Anda bisa memakainya secara langsung tanpa konverter.

Meski memiliki banyak kelebihan, SSR tidak sempurna. Ia tetap memiliki beberapa kekurangan yang harus Anda ketahui. Misalnya arus bocor sebesar 10mA dan juga ketidak cocokan jika digunakan di rangkaian phase 3.

Labels:

Contoh Aplikasi Thermistor NTC dan PTC serta Cara Kerjanya

Bagi Anda yang awam dengan rangkaian listrik, pasti tidak pernah mendengar nama thermistor, kan? Padahal thermistor ini merupakan salah satu komponen yang penting di dalam sebuah rangkaian listrik. Jadi, apa itu thermistor? Bagaimana cara kerjanya dan apa saja fungsinya? Mari kita ulas!

Mengenal Thermistor

Thermistor ini merupakan singkatan dari thermal resistor. Artinya, ia merupakan salah satu jenis resistor dengan hambatan listrik yang variasinya sejalan dengan perubahan suhu yang terjadi. Meskipun resistor memang terpengaruh pada suhu, tapi thermistor ini jauh lebih sensitif.


Setelah itu, Anda juga perlu tahu kalau thermistor ini mampu mengambil peran di dalam sebuah rangkaian sebagai komponen pasif. Selain itu, Anda juga perlu tahu kalau thermistor itu murah, akurat, dan kuat sekali untuk mengukur sebuah suhu.


Tapi perlu diketahui kalau thermistor tidak bisa bekerja maksimal di suhu yang sangat panas ataupun di suhu yang luar biasa dingin. Meski begitu, thermistor tetap menjadi sensor pilihan bermacam aplikasi ketika mereka membutuhkan pembacaan suhu yang tepat.

Bagaimana Cara Thermistor Bekerja?

Kalau dilihat dari cara kerja, thermistor ini sangat dipengaruhi oleh resistansi pada perubahan suhu. Resistansi di thermistor bisa Anda ukur dengan ohmmeter.


Bayangkan saja kalau thermistor itu kulit Anda, kemudian didekatkan pada api. Maka ia akan merasa panas, kan? Tapi Anda tidak akan merasakan panas kalau menggunakan baju anti api. Di dalam resistor kemampuan pembacaan suhu tergantung pada resistansi itu.

thermistor berwarna bulat jingga di sebelah kiri
thermistor berwarna bulat jingga di sebelah kiri


Semakin tinggi resistansinya atau jenis resistansi yang begitu sensitif pada perubahan suhu, maka perubahan suhu sekecil apapun akan berefek. Sebaliknya, kalau tidak sensitif, tentu tidak akan terjadi perubahan apa-apa pada thermistor.

Fungsi dari Thermistor yang Perlu Anda Ketahui

Seperti namanya, thermal resistor, maka sebenarnya fungsi utama thermistor ini adalah mengukur suhu di dalam sebuah kondisi cair atau udara dalam sebuah lingkungan. Tapi selain itu, ia juga memiliki fungsi lain. Seperti misalnya:

1. Termostat

Atau Anda bisa menyebutnya sebagai termometer digital. Tentu tujuannya adalah untuk mengukur suhu, komponen thermistor ini diletakkan pada sebuah alat termometer digital yang sering dipakai banyak orang.

thermostat digital contoh aplikasi thermistor
thermostat digital contoh aplikasi thermistor

Karena thermal resistor ini sangat sensitif terhadap perubahan suhu, maka ia sangat efektif jika dipasang di termometer digital. Entah itu termometer digital untuk tubuh atau untuk suhu ruangan.

2. Di Dalam Mobil

Di dalam mobil? Betul sekali! Kalau di dalam mobil sendiri biasanya dipakai untuk cairan pendingin ataupun mengukur temperatur oli dari sebuah mobil. Anda jadi tahu apakah mesin mobil Anda overheat atau tidak.

3. Peralatan Rumah Tangga

Kalau di dalam peralatan rumah tangga sendiri thermal resistor ini bisa Anda lihat pengaplikasiannya pada lemari es, oven, atau juga pada microwave. Juga beberapa pada kompor listrik dengan sensor.

4. Baterai Isi Ulang

Anda juga dapat menemukannya di baterai isi ulang. Pada baterai ini, thermistor berguna untuk memastikan suhu baterai ketika sedang diisi terus berada pada suhu normal dan tidak melampauinya. Anda tahu sendiri kalau sampai melampaui, baterai bisa meledak.

5. Perlindungan Sirkuit

Maksudnya perlindungan pada sirkuit listrik. Jadi, selain berfungsi sebagai thermal resistor, pembacaan suhu dan sejenisnya, thermistor ini juga punya fungsi yang sama seperti sekering, terutama jika Anda menggunakan tipe PTC.


Anda juga bisa melihat penggunaan thermistor ini pada sirkuit jembatan wheatstone. Pembacaannya tentu akan lebih rumit, tapi untuk sekedar informasi, maka Anda perlu mengetahuinya.

6. Mengukur Suhu Bahan Listrik

Thermistor juga bisa dipakai untuk mengukur termal dari komponen listrik. Terutama ketika Anda ingin komponen itu mempertahankan resistensi agar efek suhu terkompensasi pada bagian lain dari rangkaian listrik tersebut.


Selain fungsi itu, juga ada banyak fungsi lain dari thermal resistor ini. Intinya, thermal resistor ini sebagian besar berhubungan dengan pembacaan suhu dan sejenisnya.

Jenis-jenis Thermistor

Sesuai dengan fungsi untuk mendeteksi perubahan suhu, jenis-jenis thermistor bergantung pada respon yang dihasilkan saat terjadi kenaikan temperatur. Secaram umum, thermistor memiliki dua jenis, antara lain:

NTC

Thermal resistor NTC
Foto Thermal Resistor NTC

Jenis pertama adalah NTC. NTC sendiri adalah singkatan dari Negative Temperature Coefficient. Di dalam jenis NTC ini saat suhu naik, maka resistansi turun. Lalu ketika suhu turun, maka resistensi akan naik. Karena itu suhu dan juga resistansi pada thermistor jenis ini terbalik. Meski begitu jenis ini adalah thermistor yang paling sering digunakan alat listrik.

PTC

Berikutnya ada PTC atau Positive Temperatur Coefficient. Kalau di dalam jenis PTC yang satu ini hubungan suhu dan juga resistansi berbanding lurus. Jadi kalau suhu naik, maka resistansi juga ikutan naik. Kalau suhu tubuh, resistansi juga turun.


Tapi PTC tidak umum dipakai, karena biasanya PTC ini dipakai untuk melindungi sirkuit. Fungsinya jadi sama seperti sekering. Ia juga bisa bertindak sebagai pembatas arus. Jadi kalau ada arus yang lewat, maka akan memunculkan pemanasan resistif dalam jumlah kecil.


Bagaimana? Setelah mengenal thermistor, Anda jadi tahu bagaimana memperlakukannya, kan? Jadi, thermistor itu mesti dioperasikan di level arus listrik yang cenderung rendah. Apalagi jika dibandingkan dengan termometer resistan, kalau tidak, bisa cepat rusak.

Labels:

Mengenal Prinsip Kerja Kontaktor Listrik 1 Fasa dan 3 Fasa serta Cara Memilihnya

 Membahas soal rangkaian listrik memang tidak akan ada habisnya. Terlebih kalau kita membahas lebih dalam lagi dan lebih detail. Setiap komponennya layak untuk dibahas karena jika semakin tahu detail komponennya, Anda jadi lebih menguasai kelistrikan.

Ilustrasi kontaktor listrik
Ilustrasi kontaktor listrik

Salah satu komponen yang perlu Anda ketahui ketika berurusan dengan rangkaian listrik adalah kontaktor. Apa itu kontaktor? Bagaimana prinsip kerjanya? Lalu apakah ada jenis-jenis kontaktor? Mari kita bahas!

Apa itu Kontaktor?

Kontaktor ini adalah komponen listrik yang biasanya dipakai untuk memutus atau menyambung aliran AC atau aliran bolak balik. Anda mungkin lebih akrab dengan sebutan relay contactor yang sering terlihat di panel kendali listrik.


Kalau Anda melihatnya di panel kendali listrik atau panel kontrol listrik, kontaktor ini sering sekali dipakai untuk saklar transfer atau juga interlock pada sebuah sistem ATS. Selain itu, Anda juga bisa mengendalikan kontaktor secara otomatis dengan sebuah alat pilot atau sensor yang sangat sensitif.

Foto kontaktor DIN
Foto kontaktor DIN


Kontaktor ini hanya akan berfungsi kalau Anda mengalirinya dengan listrik dan aliran listrik tersebut mengenai coil atau kumparan tembaga yang ada di dalamnya. Di dalam kontaktor itu sendiri akan muncul medan magnet yang membuat NO atau Normally Open tertutup dan NC atau Normally Close terbuka.

Sejarah dari Kontaktor

Kalau Anda mau menilik kontaktor dari sudut pandang sejarahnya, maka cukup panjang. Mengingat, kontaktor ini pertama kali muncul tahun 1950 dan pertama kali dikeluarkan oleh sebuah perusahaan bernama OEM HVACR.


Perusahaan itu kemudian bekerja sama dengan perusahaan lain. Untuk kemudian membuat kontaktor yang lebih murah dan juga ramah lingkungan. Menurut catatan sejarah, untuk membuat kontaktor pertama itu sangat mahal dan juga tidak ramah lingkungan bahkan terkesan berbahaya. Tapi seiring perkembangan, jadi lebih murah dan ramah lingkungan.


Dulu awal perkembangan kontaktor hanya dipasarkan di Amerika Utara. Tapi kemudian OEM HVACR ini menargetkan pasar baru sampai ke Asia dengan standar ICE. Dari sanalah kemudian kita bisa menggunakan kontaktor dalam instalasi listrik kita sampai sekarang.

Prinsip Kerja dari Kontaktor

Seperti semua komponen listrik, kontaktor ini juga memiliki prinsip kerja yang harus Anda pahami. Sebenarnya prinsip kerja dari kontaktor ini sama persis dengan relay. Di dalam kontaktor itu sendiri ada saklar yang dikontrol secara elektromagnetik.


Di dalam kontaktor juga ada saklar NO dan juga NC ditambah sebuah kumparan tembaga. Kalau coil atau kumparan tembaga itu diberi aliran listrik AC, selanjutnya saklar akan terhubung dan kemudian otomatis mengubah kondisinya.


Maksudnya, jika kondisi awal itu off, maka ia akan berubah menjadi on. Begitu juga ketika kondisinya ada di on, maka akan berubah menjadi off. Di dalam proses itu kontaktor membutuhkan waktu 4-9 milisecond untuk jadi ON dan 12-22 milisecond untuk off.

Jenis-jenis Kontaktor yang Perlu Anda Tahu

Sementara kalau Anda mau tahu soal jenis kontaktor, ada dua yang dipakai di dunia, yaitu:

1.      1 Phase

Pertama adalah jenis 1 phase yang dipakai untuk mengendalikan arus AC 1 phase. Di dalam kontaktor 1 phase ini juga ada 2 saklar utama.

2.      3 Phase

ilustrasi kontaktor din 3 fasa
ilustrasi kontaktor din 3 fasa

Kemudian ada kontaktor berjenis 3 phase di mana kontaktor ini bisa dipakai untuk mengendalikan arus bolak balik atau AC 3 phase. Kemudian di dalam kontaktor ini juga memiliki 3 saklar utama.

Cara Memilih Kontaktor yang Tepat

Setelah mengetahui jenis dan prinsip kerja serta sejarah dari kontaktor, Anda juga perlu tahu bagaimana cara memilih kontaktor yang tepat. Berikut ini beberapa hal yang harus Anda perhatikan:

1.      Tegangan

Pertama silakan pilih kontaktor berdasarkan tegangan di dalam rangkaian elektronik itu. Anda bisa mengetahui kebutuhan tegangan dengan memeriksa coil dan menyesuaikan tegangannya. Biasanya kontaktor memiliki tegangan 220 VAC, 24 DC, dan 110 VAC.

2.      Ampere

Selanjutnya sesuaikan dengan kebutuhan ampere di motor yang akan dipakai. Jika ingin mengetahuinya silahkan lihat ukuran ampere di nameplate motor. Lalu pilih kontaktor dengan daya ampere yang sedikit lebih besar, jangan yang sama jumlah amperenya.

3.      Kebutuhan

Anda tentu harus melihat kebutuhan dari rangkaian listrik tersebut. Kalau rangkaiannya membutuhkan kontaktor dengan kemampuan besar, maka pilih yang besar. Kalau kecil, jangan pilih yang besar, nanti tidak bekerja efisien atau malah tidak mampu bekerja dengan baik.

4.      Kualitas

Terakhir melihat kualitas dari kontaktor tersebut. Hal ini jadi penting apalagi kontaktor menjadi salah satu bagian paling penting di dalam sebuah rangkaian listrik. Anda harus memilih kontaktor yang bagus dan keluaran produsen yang sudah berpengalaman.


Kontaktor ini pada akhirnya memang mampu dipakai untuk memutus atau menyambung sebuah aliran arus listrik di dalam rangkaian elektronik. Karena ia bertugas memutus dan menyambung, maka Anda harus memilih kontaktor yang paling tepat. Secara tidak langsung kontaktor adalah pengaman terakhir. Jadi pilih yang paling sesuai dengan tegangan, sesuai dengan ampere, dan kebutuhan.

Labels:

Mengenal Fungsi dan Cara Kerja Dioda SCR, Karakteristik dan Jenis-Jenisnya

Dalam susunan elektronik, ada banyak sekali komponen yang perlu Anda ketahui. Terutama ketika Anda memang sedang menggeluti hal-hal yang berbau elektronik. Salah satu perangkat elektronik yang perlu Anda ketahui adalah SCR. Apa itu SCR?

foto Silicon Controlled Rectifier
Foto Dioda SCR (Silicon Controlled Rectifier)

SCR adalah singkatan dari Silicon Controlled Rectifier. SCR ini merupakan sebuah komponen yang bertugas untuk menjadi penyearah dari sebuah arus listrik. SCR terbuat dari 4 bahan semikonduktor yang dilapis atau silikon, dan juga memiliki sebuah gate, oleh beberapa orang SCR disebut thyristor.

Karakteristik SCR

Setelah mengetahui pengertian sederhana dari komponen ini, maka Anda harus tahu karakteristik dari SCR. Ada beberapa aspek yang perlu Anda lihat ketika mempelajari karakteristik dari SCR:


  1. Bahan

Hal pertama yang harus Anda lihat adalah bahan yang menyusun komponen ini. SCR, seperti yang sudah disebutkan di atas, disusun oleh 4 silikon yang menjadi lapisan. Silikon tersebut merupakan bahan semi konduktor. Selain silikon, Anda juga perlu tahu kalau SCR punya gate.


  1. Kaki

SCR sama seperti dioda pada umumnya. Hanya saja kaki yang dimiliki oleh SCR tidak berjumlah dua seperti dioda pada umumnya. SCR memiliki 3 kaki terminal, ketiganya kemudian disebut dengan gate atau gerbang.


Fungsi dari kaki ketiga sendiri merupakan pengendali. Sementara kaki lainnya, yakni Anoda dan Katoda memiliki fungsi yang sama seperti dioda pada umumnya.


  1. Kemampuan

Seperti yang sudah disebut beberapa kali di atas, SCR ini punya kemampuan mengendalikan tegangan dan juga daya yang terhitung cukup tinggi. Kemampuan itu memang sudah ada sejak pertama kali SCR dikenalkan yakni tahun 1956.


Karena itulah kemudian SCR juga biasa dipakai untuk saklar atau pun pengendali di dalam sebuah rangkaian elektronika. Bahkan beberapa SCR dipakai di rangkaian dimmer, logika, chopper, osilator, hingga rangkaian timer.


  1. Susunannya

Sementara kalau dilihat dari susunannya sendiri, SCR ini terdiri dari 4 lapisan semikonduktor yang bentuknya positif negatif, positif, negatif, atau PNPN. Lalu pada terminalnya ada di lapisan P yang dekat dengan katoda.

Cara Kerja SCR

Kalau kita membahas soal cara kerja SCR maka secara tidak langsung kita juga bisa mengatakan bahwa cara kerja dari SCR ini mirip dengan dioda pada umumnya. Tapi ada beberapa hal yang membuatnya berbeda.

Prinsip kerja SCR sederhana / Slideshare

Seperti misalnya SCR membutuhkan tegangan positif di bagian terminal agar fungsinya bisa aktif. Setelah itu SCR baru bisa menghantarkan arus listrik ke Anoda dan juga Katoda. Lalu saat SCR ini sudah menyala atau ada di keadaan ON, maka ia akan ON selamanya.


Meskipun tegangan positif yang jadi pemicu dilepaskan, ia akan tetap ON. Terus bagaimana membuat ia OFF? Caranya adalah dengan menurunkan arus maju anoda-katoda sampai ia berada di titik Ih SCR, sementara besaran holding SCR berbeda. Anda harus melihat pada datasheet SCR tersebut.

Jenis-jenis SCR

SCR memiliki beberapa jenis. Jenis-jenis itu dibagi berdasarkan bentuk, sampai karakteristik bias. Berikut ini beberapa jenis SCR atau Silicon Control Rectifier dilihat dari bentuk packingnya:


  • SCR Baut atau disebut juga Stud SCR
  • Diamond Pack, karena bentuknya seperti diamond
  • SCR Kancing atau juga disebut Press Diode
  • Isotop atau SCR SOT
  • SCR yang berbentuk transistor atau disebut SCR TO


Selain jenis yang disebutkan di atas, ada beberapa kali jenis SCR berdasarkan bentuk packingnya. Tapi kelima SCR yang disebutkan di atas adalah yang paling sering dipakai. Selain itu, kelima SCR memang wajib dikenali oleh para teknisi sebagai sebuah pengetahuan dasar.


Setelah itu, kita akan melihat SCR dari karakteristik bias gate. Kalau dari karakteristik bias gate ini ada beberapa jenis SCR yang perlu Anda ketahui. Cara melihat karakteristik bias gate ini dilihat dari kaki atau terminal gatenya. Ada 3 kelompok utama, yakni:

1.      Forward Blocking Mode

Di dalam mode yang satu ini, SCR dihubungkan dengan jaringan dengan bentuk sedemikian rupa. Hal itu membuat kaki anoda jadi positif bersama dengan katoda, sehingga gate masih tetap terbuka. Di dalam susunan ini, J1 dan J3 bias maju sementara persimpangan J2 bias balik.


Di dalam arus ini SCR memberikan ketahanan yang tinggi. Karena itulah SCR menjadi saklar yang kemudian bertugas untuk menghalangi arus yang maju dan juga mengalir lewat SCR.

2.      Forward Conduction Mode

Setelah itu, ada forward conduction mode, yang mana di dalam mode yang ini SCR masuk ke konduksi dari pemblokiran. Ada dua cara untuk melakukannya, pertama adalah dengan menerapkan pulse positif atau dengan cara menaikkan tegangan ke depan.

3.      Reverse Blocking Mode

Kalau di dalam operasi yang satu ini katoda jadi positif dan selaras dengan anoda. Setelah itu, J1 dan J3 bias balik sementara J2 bias maju. Tegangan itu mendorong SCR untuk kemudian mengalirkan arus bocor kecil.


Memahami SCR memang tidak mudah. Anda harus sering melakukan praktek dengan menggunakan SCR ini agar lebih paham. Pembahasan SCR di atas dapat memberikan pengetahuan dasar kepada Anda, sehingga bisa lebih percaya diri mempraktekkannya.

Labels: